Tampilkan postingan dengan label Tafakkur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakkur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Lomba


Dalam sebuah lomba gerak jalan lintas desa, hampir semua murid sekolah dasar yang ikut menampakkan wajah ceria. Pasalnya, lomba yang diselenggarakan oleh guru mereka tidak cuma menjanjikan hadiah istimewa, tapi juga bonus.
Hadiah istimewanya berupa uang yang cukup buat beli seragam dan buku. Selain itu, murid-murid yang berhasil di garis finis akan dapat makanan dan minuman gratis di warung makan yang menjadi titik tujuan lomba.
Sebelum peserta diberangkatkan, sang guru mengingatkan peserta untuk tidak berlaku curang. “Ini hanya lomba anak-anakku, kelak kamu akan merasakan manfaatnya!” ucap sang guru penuh perhatian.
Menariknya, sebelum lomba yang bisa memakan waktu tiga jam itu, sang guru membagi-bagikan uang dua ribu rupiah kepada setiap peserta. “Uang ini bonus untuk kalian semua! Tapi, jangan digunakan untuk makan dan minum, karena kalian akan dapat makanan dan minuman yang lezat di tempat tujuan!” jelas sang guru mengingatkan peserta.
Semua peserta pun menjadi lebih bersemangat. Ada hadiah utama, makanan dan minuman lezat di tempat tujuan, dan dapat uang saku yang lumayan. Mulailah peserta lomba yang tidak diawasi ini diberangkatkan.
Ternyata, gerak jalan yang berlangsung di tengah terik matahari ini, tidak semudah yang mereka bayangkan. Anak-anak pun memperlihatkan watak asli mereka. Ada yang jajan minuman di sebuah warung desa, ada yang mencari jalan pintas di luar rute yang ditetapkan, ada juga yang menumpang ojek motor.
Setibanya di garis finis, anak-anak pun dipersilakan menikmati makanan dan minuman istimewa secara gratis di sebuah warung desa. Setelah itu, pemenang pun diumumkan.
Menariknya, pengumuman itu mengatakan hal yang agak aneh. ”Anak-anakku,” ucap sang guru. ”Silakan di antara kalian yang pantas menjadi pemenang untuk maju kedepan!”
Mendengar itu, beberapa anak pun berebut untuk maju. Kepada yang maju ini, sang guru mengatakan, ”Bapak tidak bisa menyaksikan apa benar kalian berlomba dengan jujur. Bapak tidak mampu memastikan apa kalian benar-benar tidak curang. Bapak juga tidak tahu apa kalian benar-benar tidak jajan! Tapi, ada Allah yang selalu bersama kalian!”
Setelah ucapan sang guru, suasana pun menjadi hening. Mereka yang mengaku pemenang karena tiba lebih awal di garis finis ini pun saling berpandangan satu sama lain. ”Siapa yang berani jujur, akan Bapak kasih hadiah khusus!” ucap sang guru penuh perhatian.
Saat itulah, satu per satu anak-anak yang mengaku pemenang mundur. Hingga, tak seorang pun yang ada di depan. Mereka tampak menahan malu.
”Anak-anakku, kalian semua adalah pemenang karena telah berani jujur walaupun ada hadiah yang menggiurkan,” jelas sang guru sambil menatap anak-anak dengan senyum.
++
Hidup ini tak ubahnya seperti lomba maraton tentang kejujuran. Siapkanlah hati dan jiwa kita seperti anak-anak yang masih polos, yang berani menahan malu demi kejujuran. Dan, berani tidak memperoleh ’hadiah’ duniawi karena yakin Allah Maha Mengawasi kita. (muhammadnuh@eramuslim.com)
sumber : era muslim

Pahala


Seorang balita tampak memperhatikan ibunya yang masih sibuk di dapur. Tangannya begitu cekatan mempermainkan alat-alat dapur untuk disusun rapi. Sesekali, sang ibu kembali sibuk mengaduk-aduk masakan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sang balita tak tahu persis, sejak kapan bunda tercintanya itu terbangun dari tidur. Yang ia tahu, ketika terbangun, ibunya sudah mondar-mandir di dapur. Padahal, baru tiga jam yang lalu, ia masih ingat betul bagaimana ibunya telah direpotkan dengan ompol dan buang air besar sang adik di TKP, alias tempat tidur.
“Mbok Iyem masih di kampung, ya, Ma?” ucap sang balita ke ibunya.
Sang ibu hanya menoleh dengan senyum, kemudian mengangguk pelan. “Kamu kangen, ya?” ucap sang ibu agak membungkuk.
“Aku cuma heran, Ma. Kok, kerja Mama sama Mbok Iyem beda sih?” tanya sang balita serius.
“Iya beda, sayang. Mbok Iyem kerja di sini karena ada gaji dan kewajiban mengurus rumah kita,” ucap sang ibu singkat.
“Kalau Mama, karena apa?” tanya sang balita lagi.
”Cinta!” jawab sang ibu sambil mengecup pipi balitanya.
**
Dalam tafsiran yang lebih khusus, tidak sedikit dari kita yang ’berkerja’ dalam ibadah kepada Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penguasa alam raya; hanya sebatas pada kewajiban seorang hamba kepada Khaliqnya. Di situlah ada harapan mendapatkan balasan berupa gaji yang bernama pahala.
Walaupun masih tergolong wajar, tapi itu akan menggiring sang hamba pada hitung-hitungan antara kewajiban dan pahala. Seolah, kepuasan dari menunaikan kewajiban adalah berlimpahnya pahala. Persis seperti seorang pembantu yang rajin dan malasnya sangat bergantung pada gaji dari majikan.
Tidakkah sang hamba menekuri lebih dalam bahwa nilai surga yang dijanjikan tidak akan sebanding dengan seberapa pun banyaknya pahala seseorang. Yang Maha Sayang semata-mata memasukkan hambaNya ke surga karena limpahan cintaNya kepada hamba-hambaNya yang juga beramal karena cinta. Persis seperti seorang ibu yang melakoni lautan kewajiban dengan samudera cinta. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Ucapan


Seorang turis tampak menunggu angkutan umum di tepian jalan. Sudah begitu lama ia menunggu angkutan yang bertuliskan lokasi tujuannya. Tapi, semua angkot, begitu orang menyebutnya, yang melewatinya tidak memajang dari dan kemana tujuannya. Ia hanya mendengar teriakan sang sopir dengan satu kata yang diulang-ulang: terminat, terminal, dan terminal!
Untuk kali berikutnya, turis yang sama tampak kebingungan ketika sopir sebuah angkot memintanya turun dari angkutan umum yang ia tumpangi. Permintaan itu tampak wajar karena para penumpang yang lain sudah terlebih dahulu turun dengan sedikit pun tidak menunjukkan keberatan.
”Turun mister, kita cuma sampai sini!” tegas sang sopir sambil menoleh ke arah sang turis.
”Tapi, tujuan yang tertulis kan masih jauh?” ucap sang turis mengungkapkan kebingungannya.
”Jangan percaya yang tertulis, Mister! Kan tadi saya bilangnya cuma sampai sini!” sergah sang sopir sambil memutar balik angkotnya.
Mendengar itu, sang turis yang akhirnya terpaksa turun pun kian dibuat bingung. Mana yang harus dipegang di negeri ini: yang tertulis atau yang diucapkan?
**
Menjadi pemandangan biasa di negeri ini adanya budaya ketidakcocokan antara yang tertulis dengan yang diucapkan. Ketika sebuah layanan jasa menuliskan pengumuman ’Tidak Memungut Biaya Apa pun!’, tetap saja orang akan membayar jika sang petugas meminta.
Masyarakat negeri ini seperti sebuah komunitas desa besar yang lebih berpegang pada ucapan daripada yang sudah tertulis dalam aturan dan laporan.(muhammadnuh@eramuslim.com)
sumber : era muslim

Spion



Seorang siswa setir mobil begitu menyimak arahan-arahan dari instrukturnya. Sesekali, ia mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu. “Prinsipnya, kita harus hati-hati dan konsentrasi dalam berkendaraan,” ucap sang instruktur sambil menyudahi bicaranya.
Sesaat setelah itu, mereka pun praktek lapangan. Mobil latihan sudah disiapkan. Satu per satu, siswa akan diberikan kesempatan untuk mengendarai mobil di jalan umum. “Ingat, kita harus hati-hati dan konsentrasi,” ujar instruktur sambil mengawasi salah seorang siswanya yang mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi.
Siswa ini tampak tenang ketika mobil masih di areal sepi. Tapi, ia mulai gelisah saat mobil memasuki jalan umum. Mobil-mobil lain seperti tak peduli kalau mereka sedang belajar. Berbagai kendaraan saling mendahului dari sebelah kanan dan kiri mobil latihan. “Tiiin…!” suara klakson mobil yang mendahului kian menciutkan hati si siswa. Tapi, ucapan sang instruktur terus saja menyadarkan, “Hati-hati dan konsentrasi!”
Ada satu kebiasaan siswa yang sangat mengganggu konsentrasinya sendiri. Siswa begitu sering menatap kaca spion mobil. Kadang spion kiri, kadang tengah, kadang yang kanan. Setiap kali siswa menatap spion, kali itu juga konsentrasinya buyar. Ia seperti dihantui bayang-bayang seram.
“Murid-muridku,” ucap sang instruktur sambil mengawasi seorang siswa yang memarkir mobil di tempat yang aman. “Kalian dapat pelajaran berharga dari teman kita,” tambahnya seraya menatap satu per satu siswa yang ada dalam mobil.
Para siswa mulai menyimak. “Jangan pernah menatap kaca spion selama kalian tidak ingin berbelok atau berhenti. Karena kebiasaan itu akan mengganggu kenyamanan kalian dalam berkendaraan. Semakin sering kalian menatap spion, sebanyak itu pula kalian dihantui rasa takut,” jelas sang instruktur begitu gamblang.
**
Hidup merupakan perjalanan panjang yang melalui berbagai kesan dan pengalaman. Ada kesan pahit, manis, sedih, senang, takut, dan lain-lain. Kesan dan pengalaman yang pernah terlalui kadang menjadi bayang-bayang yang mengusik pandangan seseorang untuk melihat kedepan.
Saat itulah, tidak sedikit dari kita yang sulit menangkap pemandangan jernih di depan karena cengkraman pengalaman buruk di belakang. Enggan beranjak ke hari esok karena takut akan terulang dengan kesedihan di hari kemarin.
Mungkin benar apa yang disampaikan instruktur setir mobil. ”Jangan pernah menatap cerminan bayang-bayang di belakang, kalau memang tidak begitu perlu untuk dilakukan!”
sumber : era muslim

Beban


Tak ada yang menjadi pemandangan paling aneh untuk seisi penghuni di sebuah hutan selain tingkah seekor orang utan. Kemana pun ia pergi, dan kepada siapa pun ia berjumpa, selalu saja di pundaknya terpikul sebuah keranjang besar.
Di keranjang itulah, apa saja yang ia temui, dan barang apa pun yang dibuang penghuni hutan yang ia jumpai, selalu ia masukkan kedalamnya.
Seekor rusa tampak terheran-heran ketika ia mendapati sang orang utan mengambil tanduk sang rusa yang patah. ”Untuk apa tanduk tak terpakai itu?” tanya sang rusa ketika mendapati sang orang utan memasukkannya kedalam keranjang khasnya.
”Tidak untuk apa-apa. Aku senang saja,” ucap sang orang utan sambil berlalu meninggalkan sang rusa yang keheranan.
Begitu pun ketika orang utan berkeranjang itu mendapati seekor ular sanca yang usai berganti kulit. ”Hei, untuk apa kau masukkan kulit yang tak terpakai itu kedalam keranjangmu?” tanya sang ular heran.
Lagi-lagi, sang orang utan santai saja menjawab, ”Aku cuma senang saja.”
Kian hari, isi keranjang sang orang utan mulai tampak penuh. Hampir semua penghuni hutan tampak kasihan dengan orang utan karena beban yang ia pikul kemana pun sang orang utan pergi.
Dan, mereka tidak akan bertanya kenapa itu dilakukan sang orang utan. Karena, jawabannya sudah bisa ditebak, ”Aku senang saja!”
**
Tanpa disadari, kerap orang sering merasa senang memikul beban jiwa yang semestinya tidak perlu ia pikul. Ketika orang membuang marah, ia ambil. Ketika orang melepas benci, ia simpan. Ketika orang melempar iri, ia pun mengambilnya untuk disimpan.
Padahal, tanpa mengumpulkan beban-beban yang merupakan sampah jiwa itu pun, ia sudah punya beban tersendiri. Kenapa begitu sulit melepas gundukan beban kotor dan busuk itu dalam diri, untuk kemudian menunaikan amanah hidup yang sudah berat ini.
Atau barangkali, jangan-jangan jiwa ini sudah seperti orang utan yang selalu punya jawaban sederhana, ”Ah, aku cuma senang aja!” (muhammadnuh@eramuslim.com)
sumber : era muslim

Penjara


Seekor kelinci muda menampakkan wajah gelisah ketika berada di sebuah kandang. Walau daun-daun segar selalu tersedia setiapkali ia ingin makan, kandang baginya sebuah penjara yang menghalanginya menikmati kebebasan di luar sana.
“Kamu ingin bebas dari kandang ini, anakku?” ucap seekor kelinci tua tiba-tiba. Warna bulunya yang tidak lagi cerah, menunjukkan kalau si pemilik suara itu sudah begitu lama mengenyam kehidupan.
“Tentu saja! Aku ingin bebas di luar sana!” jawab si kelinci muda setelah menoleh ke arah kelinci tua.
Persahabatan dua kelinci itu memang tergolong baru. Ketika kelinci muda dimasukkan ke kandang oleh sang pemilik, kelinci tua sudah ada di situ. Ia tidak tahu persis, sudah berapa lama kelinci tua itu menetap di kandang yang tak lebih baginya sebagai sebuah penjara.
Belum lagi dua kelinci itu melanjutkan percakapannya, tangan sang pemilik tiba-tiba menjulur ke kandang. Sepertinya, tangan itu hendak meraih kelinci tua. Dan benar saja, sang kelinci tua berhasil terpegang setelah sebelumnya menunjukkan penghindaran.
Tangan sang pemilik pun mengeluarkan sang kelinci tua di sebuah rerumputan tak jauh dari kandang. Tapi, kelinci tua itu tidak mau bergerak. Ia tetap diam. Sepertinya, sang kelinci tua ingin kembali dimasukkan kedalam kandang.
Seperti memahami bahasa tubuh kelinci, sang pemilik pun kembali memasukkan kelinci tua kedalam kandang.
“Aneh, kenapa bapak tidak memanfaatkan kesempatan untuk bebas? Apa bapak lebih senang berada di sini daripada di luar sana?” sergah sang kelinci muda sesaat setelah kelinci tua kembali berada dalam kandang.
”Anakku,” ucap sang kelinci tua. ”Tidak selamanya kebebasan itu baik. Justru, aku lebih aman berada dalam kandang ini daripada di luar sana!” lanjut sang kelinci tua.
”Bapak takut berada di luar sana? Bukankah kita bisa berlari cepat jika ada yang membahayakan kita?” tanya kelinci muda lagi.
”Sebenarnya,” jawab kelinci tua. ”Aku lebih takut pada kebebasan diriku sendiri daripada mangsa di luar sana. Karena bagiku, kebebasanlah yang membuatku lengah dari berbagai bahaya. Dan kebebasan pula yang membuatku menjadi bodoh untuk membedakan mana yang aman dan mana yang membahayakan.”
**
Sang Pemilik kehidupan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih: mau bebas atau ’terpenjara’ dalam aturannya. Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang mampu melihat bahwa ’penjara’ itu jauh lebih baik dari kebebasan.
Padahal, seperti yang diucapkan sang kelinci tua, Kebebasanlah yang menjadikan diri bodoh untuk membedakan mana yang aman, dan mana yang bahaya! (muhammadnuh@eramuslim.com)
sumber : era muslim

Remora


Tak banyak penghuni laut yang bisa sebebas ikan remora. Kemana pun remora pergi, ia selalu merasa aman. Jangankan ikan sedang seukuran dirinya, ikan besar pun tidak akan berani mendekat.
Itu bukan karena remora besar dan gagah. Bukan juga karena ikan yang hampir seukuran tenggiri ini punya racun yang mematikan. Jawabannya sederhana, remora selalu bersama pemangsa paling ditakuti seisi penghuni laut, hiu. Kemana pun hiu pergi, seperti apa pun hiu bertingkah, di situlah dan begitulah keadaan remora.
Suatu kali, remora tampak mendekati seekor penyu tua yang asyik memandangi kesibukan bawah laut. ”Hai Pak Tua! Kenapa kamu tidak berenang menikmati hangatnya laut siang? Takut, ya?” ucap remora agak menyombongkan diri.
Sang penyu tua menoleh ke arah remora, kemudian ia tersenyum. ”Aku tidak takut, remora. Aku justru sedang menikmati keindahan laut dengan caraku yang seperti ini?” jawab si penyu tua. ”Apa kamu mau bergabung denganku?” tambah sang penyu kemudian.
”Ah, dasar penyu tua! Mana sempat aku bersamamu, aku harus selalu bersama bosku, kemana pun dia pergi. Di situ aku bisa dapat keamanan, dan dengan begitu pula aku bisa dapat makanan,” jawab remora mulai agak bergegas.
”Tunggu dulu remora. Dalam hatimu yang paling dalam, apa kamu tidak merasa bersalah selalu bersama makhluk pembunuh paling ganas di lingkungan kita?” ucap sang penyu tua, agak serius.
”Ah, Pak Tua. Kalau kita ingin tetap hidup, lupakan yang namanya damai dan kejam,” jelas remora ringan. Dan remora pun mulai pergi menuju arah sang hiu.
”Hai remora!” teriak sang penyu tua ke arah remora. ”Satu hal yang kamu lupa!” ucap sang penyu tua.
Penasaran dengan apa yang diucapkan si penyu tua, remora pun berenang mendekat ke arah penyu tua, ”Apa, Pak Tua?”
”Satu hal yang kamu lupa, apa kamu juga akan ikut mati, kalau bosmu mati?” ucap sang penyu tua memberikan isyarat agar tak perlu dijawab.
**
Dalam dunia persaingan, baik individu maupun organisasi, ada orang atau pihak yang mengambil strategi berada di bawah bayang-bayang yang besar, kuat, dan ditakuti.
Dari segi ongkos tenaga dan biaya, orang atau pihak ini merasa tak perlu mengeluarkan banyak hal, tapi bisa meraih berbagai hal: keamanan, gengsi, dan sejumlah makanan, walaupun sisa.
Yang harus ia lakukan sangat sederhana: selalu mengikuti kemana pun sang bos pergi, dan bertingkah sebagaimana bos bertingkah, tanpa perduli apa kata nilai dan nurani.
Namun, kadang mereka lupa. Bahwa, dengan mengambil langkah itu, ia tidak akan pernah lebih besar dari sang bos. Dan seperti yang diucapkan penyu tua kepada remora, bagaimana jika sang bos tidak bisa lagi diikuti untuk selamanya? (muhammadnuh@eramuslim.com)
sumber : era muslim

Selasa, 13 September 2011

Garis


Seekor kuda unggulan jenis Lusiano tampak berlari santai menelusuri jalan setapak. Postur tubuhnya yang tegap dan langsing menjadikannya begitu ringan dan mantap ketika berlari. Nyaris, tak satu pun hewan di kawasan hutan lindung itu yang mampu menandingi larinya.
Setiap kali ada kuda-kuda lain yang tampak berlari, Lusiano selalu memacu larinya untuk bisa sejajar. Ia pun menoleh ke arah kuda itu dan mengajaknya untuk berlomba. Tapi, tak satu pun yang tertarik. Soalnya, ujungnya selalu sama: kalah.
Yang menyakitkan dari kekalahan oleh Lusiano, bukan pada kalahnya. Tapi, dari kesombongan Lusiano yang begitu menyakitkan lawan. ”Payah, lari kok mundur!” ucap Lusiano sambil tertawa.
Suatu kali, Lusiano melalui seekor kuda tua yang tampak berlari lambat dari arah yang berlawanan. Ia pun menghentikan larinya ketika Lusiano tiba-tiba memalangi jalan dengan tubuhnya yang tegap.
”Ada apa, Lusiano?” ucap si kuda tua dengan tetap menampakkan wajah tenang.
”Hei, Kakek. Apa kau tahu di mana tempat yang menarik kukunjungi? Aku sedang mencari lawan tanding yang sepadan?” ungkap Lusiano masih dengan penampilan sombongnya.
”Oh itu,” ujar sang kuda tua. ”Kamu bisa berlari ke arah utara, di sana akan ada tempat yang menarik untuk berlomba dengan siapa pun yang kau suka,” jawab sang kuda tua sambil kemudian berlalu meninggalkan Lusiano yang masih tampak bingung.
”Apa masih jauh?” ucap Lusiano.
”Bagiku jauh sekali, Lusiano. Entah menurutmu?” kata-kata pancingan itu kian membangkitkan kesombongan Lusiano untuk sesegera mungkin tiba di tempat itu. Dan ia pun memacu larinya menuju tempat yang disebut si kuda tua.
Lusiano berlari dan terus berlari. Hingga, ia menemukan sebuah tempat yang baru kali ini ia jumpai. Sebuah tepian pantai yang begitu landai. Sepanjang mata memandang, hanya ada sebuah garis lurus yang memisahkan bumi dan langit.
Lusiano tampak bingung dengan tempat itu. Tak satu pun kuda yang ia harapkan muncul di tempat itu. Dan pandangannya pun hanyut dalam garis lurus yang tak bertepi itu.
”Ah, betapa kecilnya aku. Ternyata, tak ada yang tinggi di bumi ini, kecuali langit di atas sana,” gumam Lusiano sambil terus menatap garis lurus itu.
**
Ketika seseorang memandang suatu yang sangat tinggi dalam dirinya, bahkan melampaui orang-orang di sekitarnya; sebenarnya ia sedang memandang dunia dari sisi yang teramat sempit.
Betapa kecilnya bumi dan dunia ini jika khazanah alam raya menjadi pembandingnya. Saat itu, siapa pun dan bagaimana pun kelebihan dan keunggulannya, akan menemukan bahwa dirinya tak lebih dari sebuah titik yang terlihat samar. (muhammadnuh@eramuslim.com)
Sumber : era muslim

Balon


Seorang anak lima tahunan tampak dikelilingi balon-balon yang berserakan di lantai. Sesekali ia berusaha melempar salah satu balon ke atas, tapi balon itu tak mau terbang. Setelah sampai di puncak ketinggian, balon pun balik lagi ke lantai.
Mendapati kekecewaan itu, sang kakak pun menghampiri. “Kamu ingin balon-balonmu itu terbang?” ucap sang kakak kepada adiknya.
Sang adik pun mengangguk penuh semangat. “Tapi, bagaimana caranya, Kak?” tanya sang adik kemudian.
Sang kakak mengambil sehelai kain yang terbuat dari wol. Ia menggosok-gosok balon sebentar, dan di luar dugaan sang adik, balon yang digosok itu pun terbang menuju langit-langit rumah. Begitu seterusnya, hingga tak satu pun balon yang berada di lantai.
“Apa balon-balon itu akan lama di atas sana, Kak?” tanya sang adik sambil mendongak menatapi balon-balonnya.
“Tidak. Ia hanya sebentar menempel di langit-langit, kemudian turun lagi ke lantai,” jawab sang kakak.
“Apa balon-balon itu bisa terbang jika di luar sana?” tanya sang adik lagi.
”Adikku, balon-balon itu hanya terbang dan menempl di langit-langit rumah kita, untuk kemudian turun lagi,” jawab sang kakak sambil senyum.
”Kenapa begitu, Kak?” sergah sang adik memperlihatkan rasa ingin tahunya.
”Karena kakak hanya menggosok-gosok saja, bukan mengisinya dengan gas yang bisa menerbangkannya di luar sana,” jelas sang kakak yang mengundang anggukan kepala sang adik.
***
Dalam dunia pendidikan dan organisasi di sekitar kita, tidak jarang didapati cara instan ’menerbangkan’ para murid dan kader ke puncak prestasi. Dengan sedikit menggosok-gosok, mereka pun melesat ke atas.
Sayangnya, puncak prestasi yang mereka capai hanya sebatas menempel di langit-langit rumah. Bukan di udara lepas nan luas.
Seperti yang diucapkan sang kakak kepada adiknya, untuk bisa menerbangkan balon prestasi murid dan kader ke langit luas, tidak cukup hanya digosok-gosok. Tapi, mesti benar-benar diisi. (muhammadnuh@eramuslim.com)
Sumber : era muslim