Rabu, 20 April 2011

Ingin Kuliah Di Sekolah Katolik

Aya ingin menguliahkan anak saya di Akademi Sekretaris tarakanita, karena di akademi tersebut mutunya bagus dan lulusaanya banyak dicari perusahaan, muridnya pun 50% kaum muslim, bagaimana menurut Bapak, saya mohon penjelasannya, terimakasih atas bantuannya .
Jawaban:
S Permasalahan ini bisa kita lihat dari dua kaca mata yang berbeda. Memang bila dilihat dari kaca mata mikro, menuntut ilmu pada sekolah milik lembaga non-Islam, bisa dikatakan tidak langsung berkaitan dengan masalah agama, apalagi seperti anda katakan bahwa 50% mahasiswanya beragama Islam. Dan dalam hal ini yang diperlajari juga bukan masalah agama, tetapi masalah administrasi yang bebas nilai.
Selain itu pada prinsipnya Islam pun tidak melarang seseorang belajar dari penganut agama lain. Bahkan ada anjuran untuk menuntut ilmu walau ke negeri Cina.
Para shahabat nabi pun banyak yang mengambil ilmu dari Yahudi dan Nasrani terutama pada segi yang tidak terkait dengan akidah dan agama. Salman Al-Farisy ketika menjadi arsitek perang Khandak mengambil ide menggali parit dari Bangsa Persia.
Umat Islam dalam sejarahnya pun banyak mengambil warisan ilmu pengetahuan dari peradaban barat kuno bahkan telah terjadi penerjemahan besar-besaran ke dalam bahasa arab atas karya ilmuwan Romawi dan Yunani kuno seperti Socrates, Aristoteles, Plato dan lain-lain.
Jadi pada dasarnya menuntut ilmu itu bisa bebas dari siapa saja tanpa memandang agamanya. Yang penting apa yang dipelajari itu bermanfaat dan tidak merusak akidah dan agama.
Itu dari kaca mata mikro. Sekarang mari kita lihat dari kaca mata makro.
Dalam sejarah kolonialisme dan gerakan masal pemurtadan dunia Islam, para penjajah menggunakan sarana lembaga pendidikan untuk memasukkan doktrin-doktrin dan pengaruh mereka pada pribumi. Sampai hari ini Indonesia dan beberapa negara di Afrika masih menjadi sasaran Kristenisasi ini. Dan di wilayah dimana kristenisasi itu berhasil, bisa dipastikan lembaga pendidikan milik nasrani ini cukup maju baik dari segi kualitas dan kuantitas.
Salah satu indikasi keberhasilan lembaga pendidikan ini bila yang belajar disitu banyak orang muslimnya. Karena kalau mahasiswa dan pelajar hanya berasal dari penganut agama mereka, buat apa membangun sekolah itu. Selain itu dengan didukung –paling tidak pada awalnya- oleh dana kristenisasi international, mereka membangun lembaga pendidikan dengan kualitas yang tinggi. Dengan demikian pada gilirannya, pribumi akan berebut menyekolahkan anak mereka pada lembaga ini. Dan kelinci pun masuk perangkap.
Meski tidak semua muridnya harus masuk Kristen, tetapi paling tidak mereka berhasil mencetak pola pikir dan gaya hidup para murid sehingga kecendrungan, fikrah, gaya hidup dan pola pikir para lulusannya tidak selurus mereka yang sekolah pada lembaga pendidikan Islam. Paling tidak mereka menjadi tokoh-tokoh sekuler yang menjunjung tinggi peradaban penjajah dan kurang respon pada Islam.
Sekolah-sekolah seperti ini dalam sejarah sudah sangat berjasa dalam menyebarkan agama nasrani baik langsung atau tidak langsung. Artinya tidak harus semuanya masuk kristen, tetapi apa yang diajarkan dan disampaikan tidak akan jauh dari misi itu. Ini sesuatu yang wajar sekali terjadi di negeri ini.
Disinilah letak duduk persolaannya. Dan ini menjadi dilemma para orang tua muslim yang sadar akan kualitas pendidikan buat putra puteri mereka. Sekaligus juga tantangan bagi para pendidik muslim untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam.
Sejatinya, kualitas pendidikan Islam harus lebih tinggi dari sekolah lainnya. Karena Islam sendiri sangat memberikan perhatian penuh pada masalah pendidikan.
Bahkan bila kita hitung-hitung, di masa Nabi masih hidup, bayaran yang diberikan kepada para pengajar terbilang tinggi. Ketika perang Badar berakhir, ada banyak tawanan perang dari pihak Quraisy. Kebiasaan mereka tawanan perang dijadikan budak. Kepada mereka ini bila ingin bebas dari perbudakan, wajib mengajarkan 10 orang muslim untuk sekedar bisa membaca dan menulis.
Padahal harga budak cukup mahal, barangkali bila dikurs di zaman ini bisa mencapai harga puluhan dan ratusan juta. Tetapi harga yang tinggi itu oleh Rasulullah SAW sebanding dengan jasa mengajarkan baca tulis 10 orang saja.
Jadi sekali lagi, ini adalah tantangan bagi dunia pendidikan Islam. Apakah akan terus begini atau akan bangkit dan menjadi yang terbaik. Sementara di sisi lain, lembaga pendidikan non-Islam telah jauh mendahului. Dan kita semua tahu bahwa lembaga pendidikan adalah salah satu sarana paling efektif dalam menyebarkan suatu ajaran. Itulah yang selalu dikerjakan oleh para penjajah dimana pun, yaitu membangun sekolah dan lembaga pendidikan.
Namun alhamdulillah, satu dua lembaga pendidikan di negeri ini sudah mampu mengejar ketertinggalan mereka dan meski belum mengungguli, paling tidak bisa menyamai prestasi mereka.
Jadi tinggal anda memilih saja antara keduanya. Yang satu jelas milik nasrani dan telah punya peranan besar dalam menyebarkan paham mereka sedikit atau banyak, yang lain meski barangkali kualitasnya tidak setenar yang pertama, tetapi bukan berarti tidak baik, iya kan?
Dengan memasukkan anak pada suatu lembaga, suka atau tidak suka paling tidak kita telah ikut andil membesarkan lembaga itu.
Dan penting untuk dipahami bahwa kualitas pendidikan bukan ditentukan semata-mata oleh lembaganya saja, tetapi lebih dari itu juga kemampuan anak didiknya juga.
Dan kalau boleh berandai-andai, andai umat Islam di Indonesia yang jumlahnya mencapai angka 200 juta, semua sadar akan pentingnya lembaga pendidikan yang berkualitas, lalu mereka mendirikan lembaga pendidikan untuk mendidik anak-anak mereka dengan sepenuh perhatian, dan tidak mendidiknya pada lembaga non-Islam, pastilah umat Islam ini akan maju. Dan lembaga non-muslim itu biarlah hanya untuk mendidik anak-anak mereka saja, karena umat Islam telah memiliki lembaga pendidikan yang jauh lebih berkualitas karena didukung penuh dengan dana, sdm, semangat dan potensi semua umat. Kami yakin ketimpangan sepeti ini akan segera berakhir.
Tapi dari mana kita mulai? Tentu tidak mungkin hal itu terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Pastilah harus mulai dari individu-individu yang sadar masalah ini. Siapakah individu itu? Insa Allah anda salah satunya.
Wallahu a‘lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar