Kamis, 10 Februari 2011

TIPS KESEHATAN

Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula
sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin secara adekuat.
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan
kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi
hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar
gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan
atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.
Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi
progresif setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak
aktif.
Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, merupakan zat utama
yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat.
Insulin menyebabkan gula berpindah ke dalam sel sehingga bisa
menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.
Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang
pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar
gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun
secara perlahan.
Pada saat melakukan aktivitas fisik kadar gula darah juga bisa menurun
karena otot menggunakan glukosa untuk energi.

*Penyebab*
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk
mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak
memberikan respon yang tepat terhadap insulin.
Penderita diabetes mellitus tipe I (diabetes yang tergantung kepada
insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak
menghasilkan insulin. Sebagian besar diabetes mellitus tipe I terjadi
sebelum usia 30 tahun.
Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (mungkin berupa infeksi
virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal)
menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di
pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik.
Pada diabetes tipe I, 90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami
kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita
harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur.

Pada diabetes mellitus tipe II (diabetes yang tidak tergantung kepada
insulin, NIDDM), pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya
lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap
efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif.
Diabetes tipe II bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya
terjadi setelah usia 30 tahun.
Faktor resiko untuk diabetes tipe II adalah obesitas. Sebanyak 80-90%
penderita mengalami obesitas. Diabetes tipe II juga cenderung diturunkan.

Penyebab diabetes lainnya adalah:

    * Kadar kortikosteroid yang tinggi
    * Kehamilan (diabetes gestasional)
    * Obat-obatan
    * Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.

*Gejala*
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah
yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka
glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi,
ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar
glukosa yang hilang.
Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka
penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).
Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga
banyak minum (polidipsi).
Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami
penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita
seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan
(polifagi).
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya
ketahanan selama melakukan olah raga.
Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.
Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan
penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan.
Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan
berat badan.
Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan
bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan
ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi
karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin,
maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak
dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun
yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis).
Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih
yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada
anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha
untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti
bau aseton.
Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma,
kadang dalam waktu hanya beberapa jam. Bahkan setelah mulai menjalani
terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis
jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami
stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama
beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah
gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang
terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL,
biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka
penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan
kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma
hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

*Komplikasi*
Lama-lama peningkatan kadar gula darah bisa merusak pembuluh darah,
saraf dan struktur internal lainnya. Terbentuk zat kompleks yang terdiri
dari gula di dalam dinding pembuluh darah, sehingga pembuluh darah
menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah
akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar
zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya
aterosklerosis (penimbunan plak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis
ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.
Sirkulasi yang jelek melalui pembuluh darah besar dan kecil bisa melukai
jantung, otak, tungkai, mata, ginjal, saraf dan kulit dan memperlambat
penyembuhan luka.
Karena hal tersebut diatas, maka penderita diabetes bisa mengalami
berbagai komplikasi jangka panjang yang serius. Yang lebih sering
terjadi adalah serangan jantung dan stroke.
Kerusakan pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan
(retinopati diabetikum).
Kelainan fungsi ginjal menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus
menjalani cuci darah (dialisa).
Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika
satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan
atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah. Jika saraf yang
menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan (polineuropati
diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau
nyeri seperti terbakar dan kelemahan. Kerusakan pada saraf menyebabkan
kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat
merasakan perubahan tekanan maupun suhu.
Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok)
dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat
dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama
sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah,
ditunda atau diperlambat dengan mengontrol kadar gula darah.

Komplikasi jangka panjang dari diabetes dapat mengenai beberapa
organ/jaringan:

    *
      Pembuluh darah. Plak aterosklerotik terbentuk dan menyumbat arteri
      berukuran besar atau sedang di jantung, otak, tungkai dan penis.
      Dinding pembuluh darah kecil mengalami kerusakan sehingga pembuluh
      tidak dapat mentransfer oksigen secara normal & mengalami
      kebocoran. Akibat sirkulasi yg jelek menyebabkan penyembuhan luka
      yg jelek dan bisa menyebabkan penyakit jantung, stroke, gangren
      kaki & tangan, impoten dan infeksi.
    *
      Mata. Terjadi kerusakan pada pembuluh darah kecil retina.
      Akibatnya terjadi gangguan penglihatan yang pada akhirnya bisa
      terjadi kebutaan
    *
      Ginjal. Penebalan pembuluh darah ginjal, protein bocor ke dalam
      air kemih,darah tidak disaring secara normal. Fungsi ginjal yg
      buruk dapat menyebabkan gagal ginjal
    *
      Saraf. Kerusakan saraf karena glukosa tidak dimetabolisir secara
      normal dan karena aliran darah berkurang akibatnya: kelemahan
      tungkai yg terjadi secara tiba-tiba atau secara perlahan,
      berkurangnya rasa, kesemutan & nyeri di tangan dan kaki. Kerusakan
      saraf menahun
    *
      Sistem saraf otonom. Kerusakan pada saraf yg mengendalikan tekanan
      darah dan saluran pencernaan. Komplikasinya: tekanan darah yg
      naik-turun, kesulitan menelan & perubahan fungsi pencernaan
      disertai serangan diare.
    *
      Kulit. Berkurangnya aliran darah ke kulit dan hilangnya rasa yg
      menyebabkan cedera berulang. Akibatnya terjadi  luka, infeksi
      dalam (ulkus diabetikum) dan penyembuhan luka yg jelek,
    *
      Darah. Gangguan fungsi sel darah putih maka akan mudah terkena
      infeksi, terutama infeksi saluran kemih & kulit
    *
      Jaringan ikat. Gula tidak dimetabolisir secara normal sehingga
      jaringan menebal atau berkontraksi. Akan menyebabkan sindroma
      terowongan karpal (Kontraktur Dupuytren)

*Diagnosa*
Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejala- gejalanya (polidipsi,
polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar
gula darah yang tinggi.
Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah
penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan.
Pada usia diatas 65 tahun, paling baik jika pemeriksaan dilakukan
setelah berpuasa karena setelah makan, usia lanjut memiliki peningkatan
gula darah yang lebih tinggi. Pemeriksaan darah lainnya yang bisa
dilakukan adalah tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan pada keadaan
tertentu, misalnya pada wanita hamil. Penderita berpuasa dan contoh
darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita
meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam
kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa.

*Pengobatan*
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar
gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar
normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang
normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka
panjang adalah semakin berkurang.
Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan
diet. Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes tipe II tidak akan
memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah
raga secara teratur. Tetapi kebanyakan penderita merasa kesulitan
menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu
biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik per-oral.
Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu
banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur.
Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi,
karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam
makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah
mengontrol kadar gula darah dan berat badan.
Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah
raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara
menghindari terjadinya komplikasi. Mereka juga harus memberikan
perhatian khusus terhadap infeksi kaki dan kukunya harus dipotong secara
teratur.
Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang
terjadi pada pembuluh darah di mata.

*Terapi sulih insulin*
Pada diabetes tipe I, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga
harus diberikan insulin pengganti.
Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin
dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral
(ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam
penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat
bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan
masalah dalam penentuan dosisnya.
Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di
lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar
tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar,
masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja
yang berbeda:

   1. Insulin kerja cepat. Contohnya adalah insulin reguler, yang
      bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini seringkali
      mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai
      puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin
      kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani
      beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit
      sebelum makan.
   2. Insulin kerja sedang. Contohnya adalah insulin suspensi seng atau
      suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam,
      mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama
      18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk
      memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam
      hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
   3. Insulin kerja lama. Contohnya adalah insulin suspensi seng yang
      telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja
      selama 28-36 jam. Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama
      berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.

Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:

    * Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya
    * Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan
      menyesuaikan dosisnya
    * Aktivitas harian penderita
    * Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya
    * Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari
insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah
yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan
menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin
kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika
hendak tidur malam.
Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja
cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai
suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.
Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama
setiap harinya. Penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya
tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya.
Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan
dan olah raga. Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin.
Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh,
karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti.
Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan
resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.
Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya
pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan
nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di
sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.
Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit
tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit
berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti
tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin
manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.

*Pemantauan pengobatan*
Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari
pengobatan diabetes. Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih,
tetapi pemeriksaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk
memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan.
Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh
penderita di rumah. Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah
mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat
hipoglikemiknya dapat disesuaikan.

*Mengatasi komplikasi*
Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan
kadar gula darah sehingga terjadi hipoglikemia. Hipoglikemia juga bisa
terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau
melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan.
Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena
pengaruhnya adalah otak. Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai
membuat glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati. Proses ini
melibatkan pelepasan epinefrin (adrenalin), yang cenderung menyebabkan
rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran.
Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.
Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa
menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap.
Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula.
Karena itu penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau
tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita
segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue,
buah-buahan atau makanan manis lainnya. Penderita diabetes tipe I harus
selalu membawa glukagon, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat
memakan makanan yang mengandung gula.

Gejala-gejala dari kadar gula darah rendah:

    * Rasa lapar yang timbul secara tiba-tiba
    * Sakit kepala
    * Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba
    * Badan gemetaran
    * Berkeringat
    * Bingung
    * Penurunan kesadaran, koma.

Ketoasidosis diabetikum merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa
pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma dan kematian.
Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif.
Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium,
kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air
kemih yang berlebihan.
Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera
dan dosisnya disesuaikan.
Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam,
sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan.
Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian
kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan
keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan
tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.
Pengobatan untuk koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik sama dengan
pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum. Diberikan cairan dan
elektrolit pengganti. Kadar gula darah harus dikembalikan secara
bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula
darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak
terlalu berat.
Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka
panjang berkembang secara progresif.
Retinopati diabetik dapat diobati secara langsung dengan pembedahan
laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa
mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu
mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.

*Obat Herbal untuk Diabetes Mellitus*
/*Resep 1*/

Lidah buaya (aloe vera) sebanyak 2 batang dicuci, dibuang durinya,
dipotong-potong. Rebus dalam 3 gelas air, setelah mendidih saring. Minum
3 kali sehari sesudah makan masing masing setengah gelas.

/*Resep 2*/
Daun mimba (azadirachta indica) sebanyak 7 helai direbus dalam 3 gelas
air hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Air rebusan berwaran kuning
kehijauan. Angkat, saring lalu dinginkan, tambahkan satu sendok makan
madu. Konsumsi 3 kali sehari setiap pagi, siang dan petang 1 jam sebelum
makan.

/*Resep 3*/
Daun tapak dara (Catharantus roseus) sebanyak 15-17 lembar direbus dalam
3 gelas air hingga tersisa satu gelas. Minum 2 kali sehari.

Sumber artikel dari Medicastore dan buku Herbal Indonesia berkhasiat
terbitan Trubus



Menangkis Serangan Rematik

Rematik adalah penyakit kelainan pada sendi yang menimbulkan nyeri dan
kaku pada sendi, tulang dan jaringan ikat.
Beberapa mitos mengenai penyebab rematik seperti udara dingin atau
sering mandi malam ternyata tidak benar tetapi kedua hal tersebut
merupakan faktor yang memperberat penyakit tersebut. Penyebab pasti
penyakit rematik sendiri hingga saat ini masih belum diketahui walaupun
beberapa faktor seperti infeksi, genetik dan pengaruh kelenjar tubuh
diduga turut berperan. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, walaupun
lebih banyak menyerang mereka yang berusia 25 tahun sampai 55 tahun dan
wanita beresiko terserang lebih tinggi hingga tiga kali lipat dibanding
kaum pria.
Gejala serangan penyakit reumatik biasanya diawali dengan kelelahan,
hilangnya nafsu makan, yang kemudian berkembang menjadi nyeri di daerah
persendian, persendian terasa hangat, bengkak serta kaku setelah lama
tidak beraktivitas. Daerah tangan, pergelangan tangan, siku, bahu dan
lutut serta mata kaki adalah bagian yang paling banyak mendapat serangan
meski bisa menyerang daerah paha serta leher. Beberapa gejala lain
adalah demam ringan, seluruh tubuh terasa kaku dipagi hari yang mulai
terasa dalam enam bulan terakhir sebelum diagnosa berpenyakit reumatik,
kulit kemerahan serta kelenjar di daerah leher atau ketiak yang membengkak.
Jika gejala tidak segera ditangani maka reumatik bisa mempengaruhi
bagian tubuh lain seperti pembuluh darah, jantung atau paru-paru.

*Pencegahan Rematik*
Untuk mencegah nyeri reumatik datang hindari makanan seperti jerohan
atau emping melinjo,lakukan olahraga renang dan bersepeda secara rutin
serta perhatikan sikap tubuh saat duduk, berdiri dan mengangkat barang
agar tidak membebani tubuh.

*Penanganan Rematik*

   1. Mandi air hangat dengan air rebusan rimpang lengkuas bisa membantu
      mengurangi rasa nyeri akibat reumatik.
   2. Mengkonsumsi minyak ikan . Menurut penelitian yang dilakukan
      terhadap 90 orang penderita reumatik dan dipublikasikan dalam
      Natural Pharmacist, Amerika Serikat dapat membantu meringankan
      penyakit reumatik. Namun hindari mengkonsumsi dalam jumlah yang
      berlebihan untuk menghindari kelebihan vitamin A yang bisa
      berakibat buruk bagi kesehatan.
   3. Zat pereda rasa sakit dalam jahe bisa bermanfaat untuk mengatasi
      nyeri reumatik. Caranya minumlah air jahe hangat tiga kali sehari
      untuk mengurangi nyeri yang muncul.
   4. Mengatur pola makan dengan baik untuk mencegah seringnya nyeri.
      Caranya, perbanyaklah mengkonsumsi susu bebas lemak, jus jeruk dua
      cangkir sehari serta bokcoy, ubi, brokoli, labu serta wortel
      setengah matang. Selain itu konsumsi pula ikan dan tofu serta
      buah-buahan segar terutama apel, buah kering, jus anggur dan
      perbanyaklah minum air putih. Kurangi konsumsi daging, telur,
      ayam, bayam, terong, kopi, alkohol, kacang dan garam serta gula
      berlebihan.


*Resep Herbal mengatasi Rematik*

*Resep 1*
Daun dan batang meniran 3 batang, daun kumis kucing 17 lembar, daun
sambiloto segar 7 lembar, temulawak 1 ruas (kira2 sebesar telur itik)

*Cara membuat*
Temulawak dikupas, dicuci bersih lalu diiris tipis-tipis. Rebus semua
bahan dalam 5 gelas air sehingga tersisa 4 gelas. Angkat dan saring.
Dosis pemakaian diminum 3 kali sehari 2/3 gelas setelah makan. Jangan
gunakan ramuan ini pada ibu hamil. Setelah satu minggu lihat
perkembangan jika membaik bisa diteruskan selama 1 minggu lagi, begitu
seterusnya.

*Resep 2*
Jahe merah segar 25 gram, temulawak 20 gram, cabe jawa 20 gram, kumis
kucing 30 gram, daun komfrey 25 gram

*Cara membuat*
Cuci bersih semua bahan. Iris tipis-tipis rimpang jahe merah dan
temulawak. Rebus semua bahan dalam 4 gelas air hingga tersisi 2 gelas.
Setelah mendidih angkat, dinginkan, lalu saring. Minum 2 kali sehari
masing-masing 1 gelas. Bisa ditambahkan madu atau air jeruk nipis.

*Resep 3*
Adas 5 gr, pulosari 5 gr, daun sosor bebek 30 gr, gula aren secukupnya


*Cara membuat*
Semua bahan direbus dalam 400 cc air hingga tersisa 200 cc lalu disaring
dan diminum airnya dua kali sehari. Untuk obat oles tumbuklah adas dan
daun senggugu segar. Balurkan pada bagian tubuh yang sakit



Sumber resep herbal dari buku 'Herbal Indonesia berkhasiat, bukti ilmiah
dan cara racik, terbitan Trubus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar